Bagaimana Pengaruh Tinju Terhadap Kerusakan Statistik Otak?

Kekerasan olahraga tinju telah menyebabkan banyak orang bertanya-tanya apakah olahraga ini cukup aman bagi setiap orang yang ingin mengikuti olahraga ini. Banyak orang-orang yang telah meninggal yang diakibatkan oleh trauma kepala dari kegiatan olahraga tinju tersebut. Pada tahun 2010 dan 2011, para peneliti mulai menelusuri efek jangka panjang dan tentunya mengenai efek dari kerusakan otak itu sendiri. Meskipun ada banyak manfaat dari olahraga tinju tersebut, tetapi olahraga keras ini memiliki sejarah pahit ketika seseorang banyak yang mengalami masalah cedera otak. Banyaknya masalah cedera yang ditimbulkan oleh olahraga tinju ini seperti yang terjadi dengan legenda tinju Dunia yaitu Muhammad Ali yang menderita penyakit Parkinson, dan penyakit ini diketahui juga disebabkan oleh pukulan yang menyerang bagian kepala secara terus-menerus selama beberapa pertandingan yang dilakoni oleh petinju tersebut. Cedera atau kerusakan otak pun bisa diakibatkan oleh kebiasaan mengkonsumsi alkohol dalam jangka waktu yang lama.

Kematian karena trauma otak

Para peneliti di Jerman melaporkan ada sekitar 10 persen kematian terjadi yang diakibatkan oleh olahraga tinju per tahun sejak tahun 1900. Dari kematian ini, lebih dari 80 persen adalah cedera parah pada bagian kepala dan leher, yang mengakibatkan pecahnya pembuluh darah di otak, perdarahan epidural dan subdural hematoma, yang juga menyebabkan pendarahan hebat di otak.

Kerusakan otak pada petinju

Menurut BBC Kesehatan, kerusakan otak dapat terjadi dengan cepat yang juga dapat menyebabkan kematian atau bisa terjadi secara bertahap yang diakibatkan oleh perasaan trauma berkelanjutan terhadap kepala. Mereka menyatakan bahwa bahan kimia yang disebut cahaya neurofilamen ini akan dilepaskan ketika sel-sel saraf yang rusak empat kali lebih tinggi dari normalnya.

Defisit kognitif

Selain kerusakan otak permanen, defisit kognitif juga menjadi permasalahan yang di derita oleh para petinju. Menurut studi oleh tim Forstl ini peneliti telah membandingkan dari 82 petinju amatir bahwa mereka yang telah pensiun secara signifikan memiliki kesehatan otak yang lebih buruk dalam penglihatan dan pemikirannya. Selain itu, 18 petinju profesional secara signifikan telah terganggu dalam kinerja fungsi otaknya dalam pengolahan informasi dan kelancaran lisan satu bulan setelah melakukan kebiasaan olahraga tersebut.

Penyakit neurodegenerative

Meskipun banyak yang diketahui tentang kerusakan otak permanen dari para petinju, tetapi masih ada saja sedikit yang diketahui tentang masalah penyakit neurodegenerative tersebut. Namun, para peneliti telah menemukan bahwa cedera otak traumatik yang parah dari petinju telah dikaitkan dengan pengembangan demensia pugilistika. Sindrom klinis ini telah dikaitkan dengan peningkatan protein tau dalam otak, yang berhubungan dengan gangguan demensia, penyakit Parkinson dan Alzheimer.

Risiko jangka pendek

Hematoma akut bertanggung jawab atas 75 persen dari semua masalah yang diakibatkan oleh cedera kepala akibat tinju dan No 1 penyebab kematian. Hematoma subdural dapat disebabkan oleh pukulan tangan yang keras, terutama pukulan knock-out atau mendapatkan pukulan berulang. Gejalanya akan berkembang dengan cepat.

Bahaya dan resikonya

Dalam beberapa olahraga, terutama sepak bola, tim dapat menarik atlet yang mengalami luka untuk melakukan tes secara langsung jika pemain tersebut mengalami gegar otak. Namun, bagi para petinju hal ini tidak berlaku. Pada tahun 1962, salah satu petinju yaitu Benny Peret mengalami koma yang menyebabkannya menjadi gegar otak dan meninggal setelah melakukan pertarungan tinju dengan Emile Griffith.

Pengaruh terhadap kehidupan

Sebagai konsekuensinya, olahraga ini mengakibatkan para pemainnya mengalami penurunan secara keseluruhan dalam kesehatan mental. Demensia sendiri adalah salah satu penyakit yang mengacu ke sejumlah kondisi yang bertanggung jawab atas kerusakan memori dan keterampilan kognitif yang diakibatkan oleh olahraga keras tersebut. Bahkan, 15 sampai 40 persen dari petinju yang sudah pensiun menunjukkan gejala yang sebanding dengan penyakit Alzheimer.

Gangguan kesehatan

Sementara itu dari  beberapa petinju ternyata memiliki permasalahan kesehatan yang serius dan masalah cacat fisik maupun mental yang diakibatkan oleh olahraga keras yang selalu menyerang fisik tersebut. Pada tahun 2014, Lou Ruvo Pusat Kesehatan Otak di The Cleveland Clinic meluncurkan studi kronik efek jangka panjang dari gangguan permasalahan yang terjadi di otak. Petinju yang aktif dan pensiunan akan memiliki akses ke MRI, pemeriksaan neurologis dan tes genetik. Hal ini direncanakan untuk mengembangkan proses skrining terhadap kesehatan otak serta mengetahui alasan lebih mendalam lagi mengenai kenapa cedera otak lebih mudah didapatkan oleh petinju dari pada cedera yang menyerang bagian tubuh lainnya.

Kita harus bisa untuk merawat otak dengan selalu mengkonsumi makanan yang teratur dan gaya hidup yang sehat, karena penyebab cedera atau kerusakan otak bukan hanya disebabkan oleh olahraga tinju ini saja, akan tetapi berbagai macam asupan makanan pun sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan otak kita, terutama dengan beberapa jenis vitamin yang diperlukan oleh otak, yang akan menjaga dan memenuhi asupan kesehatan otak kita.

Bagikan kepada kawan dan kerabat...
Share on Facebook0Share on Google+2Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0Pin on Pinterest0Digg this

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *