Benarkah Kondisi “Patah Hati” Mempengaruhi Kesehatan Kita?

Ternyata kondisi perasaan kita yang semrawut kacau gara-gara putus cinta dapat mempengaruhi kesehatan tubuh kita juga loh, kok bisa ya?. Ya memang banyak sekali kondisi semacam ini yang mempunyai dampak sangat luarbiasa terhadap kesehatan tubuh kita, karena perasaan yang tidak terkontrol akan disampaikan ke bagian saraf otak, setelah itu, sistem saraf pusat akan merespon efek negatif tersebut ke seluruh bagian sel saraf dibagian tubuh kita. Kebanyakan, orang yang mengalami patah hati akan membuat fisikologis mereka menjadi tidak terkontrol atau stres, tentunya ada beberapa cara stres yang dapat mempengaruhi kesehatan kita.

Otak merespon rasa nyeri (tidak enak makan, tidur dan lain-lain)

Otak kita akan benar-benar bisa menembakkan sinapsis sakit ketika kita sudah mengalami perpisahan. Sebuah studi pada tahun 2010 yang diterbitkan dalam Journal of Neurophysiology menemukan bahwa ketika seseorang yang sedang mengalami patah hati, maka keadaan ini akan diantarkan ke bagian otak yang juga akan merespon rasa sakit yang dirasakan seseorang. Demikian juga dengan beberapa studi lain yang dilakukan pada tahun 2011 oleh para peneliti di Columbia University menunjukkan bahwa ketika kita akan melalui sebuah perpisahan dan merasakan adanya sebuah kehilangan yang sangat berarti bagi kita, area di otak yang menjadi aktif adalah bagian yang sama dengan seseorang pecandu kokain yang biasanya mengalami sakit fisik dan tekanan.

Tubuh memiliki respon fight or flight

Respon fight or flight adalah fenomena biologis yang nyata yang membuat tubuh mengirimkan tingkat besar dari stres hormon adrenalin dan kortisol dalam respon yang ditunjukan oleh otak. Tidak hanya itu, kondisi stres pun dapat mempengaruhi biologis kita yang dapat menimbulkan efek berbahaya terhadap kesehatan kita, seperti perasaan sakit, otot bengkak (yang disebabkan oleh kortisol yang menjadi sumber pembangun bagi sel-sel dalam tubuh, tapi otot tidak benar-benar akan melakukan lonjakan berlebih dari kondisi normalnya) dan peningkatan denyut jantung (yang disebabkan oleh adrenalin dan kortisol). Stres ini mempunyai dampak yang sangat signifikan terhadap kesehatan tubuh kita, karena ada beberapa masalah kesehatan yang disebabkan oleh stres.

Melambatnya sistem pencernaan

Menurut sebuah studi pada tahun 1994, stres bahkan dapat mempengaruhi proses produksi lemak dalam tubuh, karena hormon kortisol tersebut menghasilkan endapan lemak dibagian tubuh, terutama di bagian perut. Kondisi ini terjadi, karena kortisol akan mempengaruhi sistem pencernaan kita selama organ dalam kita beristirahat untuk mengalihkan darah dari saluran pencernaan kita, yang selanjutnya akan membuat sistem pencernaan kita menjadi tidak nyaman.

Kulit menjadi lebih rentan terhadap jerawat

Tentu saja banyak sekali hal yang menjadi penyebab timbulnya jerawat. Namun dalam studi pada tahun 2007 yang disebutkan oleh The New York Times untuk metodologinya, peneliti mampu mengetahui banyak faktor penyebab jerawat (seperti halnya cuaca, dengan mempelajari banyak orang yang tinggal di Singapura, di mana iklimnya jarang berubah) dan menunjukkan bahwa kondisi stres tidaklah benar dalam penyebab timbulnya jerawat. Sekitar 23 persen pertumbuhan jerawat lebih mungkin terjadi ketika seseorang mengalami tingkat stres yang terbilang tinggi seperti halnya seseorang yang memiliki hubungan romantis harus merasakan keadaan pahit dalam hidupnya yaitu perpisahan. Dan tidak hanya stres saja yang dapat menyebabkan jerawat, ternyata ada beberapa penyebab dan cara mengatasi pertumbuhan jerawat tersebut, agar kita lebih mengetahui bagaimana cara terbaik untuk mengatasi masalah tersebut tanpa memperparah kondisi jerawat kita tersebut.

Rambut menjadi rontok

Stres adalah penyebab yang secara signifikan dapat mempengaruhi kerontokan rambut dan keadaan hubungan seseorang yang putus seringkali menjadi hal yang penyebab timbulnya stres. Kondisi rambut rontok ini sering dialami oleh banyak orang yang mengalami stres, karena pertumbuhan rambut sendiri di pengaruhi oleh hormon tertentu penyebab stres.

Tekanan darah menjadi tidak stabil

Penelitian yang dilakukan oleh American Heart Association menjelaskan bahwasanya tekanan darah dapat meningkat ketika kita dalam keadaan stres, tetapi keadaan stres belum terbukti menjadi penyebab tekanan darah tinggi secara kronis. Namun, kenaikan tekanan darah dalam sementara dapat menjadi masalah bagi orang-orang yang sudah memiliki tekanan darah tinggi sebelumnya, karena bisa menjadi beresiko tinggi terhadap penyakit tersebut lainnya yang disebut sebagai hipertensi, bila tekanan darah sangat tinggi hal ini akan menyebabkan gejala seperti sakit kepala, sesak napas, atau mimisan.

Detak jantung menjadi tidak terkendali akibat sindrom patah hati

The American Heart Association menjelaskan bahwa ketika kita dalam keadaan stres, seperti halnya ketika kita berhadapan dengan patah hati, hal ini akan membuat jantung kita tidak mampu memompa darah dengan baik dan menyebabkan kontraksi kuat diotot yang dapat menyebabkan gagal otot jantung yang parah. Kondisi ini secara teknis disebut cardiomyopathy atau sering disebut sebagai “sindrom patah hati”.

Bagikan kepada kawan dan kerabat...
Share on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0Pin on Pinterest0Digg this

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *